Beranda > Renungan Harian > Memadam Bara Amarah

Memadam Bara Amarah

Bacaan: Yakobus 1:19-20

Demam Piala Dunia mulai menghampiri kita, betapa tidak kurang dari seminggu lagi perhelatan akbar tersebut akan segera digelar.Dimana-mana orang mulai membicarakan tentang “bola”, tak terkecuali di gereja.

Ada sebuah cerita menarik dari klub kesayangan saya AC Milan, saat itu Milan sedang dalam kesulitan meski hanya menghadapi tim papan bawah Livorno.Posisi Seedorf dan Ancelotti di pekan itu bolehlah disebut berseberangan.Seedorf sebagai pemain tengah merasa permainannya terlalu dicampuri oleh sang pelatih. Sebaliknya Ancelotti merasa pemainnya tak mematuhi instruksinya.

Mereka terlibat perdebatan yang cukup sengit di pinggir lapangan, sialnya adegan itu terekam kamera televisi.Sontak, isu perpecahan menghiasi nyaris seluruh televisi di Italia.Sungguh situasi yang sangat buruk bagi sebuah tim yang selalu membutuhkan suasana kondusif untuk mencapai hasil maksimal.

Beruntunglah semua yang terlibat bisa bersikap dewasa.

“Saya tidak marah dengan apa yang terjadi.itu hanya perdebatan biasa antara saya dan Seedorf.Saya marah karena selalu ada kamera yang merekam kegugupan kami,”kata Ancelottti dalam konferensi pers usai pertandingan.

Seedorf ikut menjernihkan suasana.”Kejadian itu tidak membawa dampak apa-apa dan saya tidak perlu menjelaskan apa-apa pada Ancelotti karena kami sudah mengenal baik satu sama lain,”jelasnya pada pers.”Tidak ada yang tersinggung.Kami hanya bicara soal sepakbola,mungkin kami berdua sama-sama emosi karena situasi tidak berjalan baik dalam pertandingan.Hanya itu.Tidak ada hal lain yang perlu dirisaukan.”

Amarah adalah suatu sikap yang muncul dari dalam diri seseorang sebagai reaksi spontan atas suatu tekanan/serangan yang dialaminya, baik tekanan/serangan secara fisik maupun secara mental psikologi. Sesabar-sabarnya manusia namun ia pasti punya batas kesabaran. Ketika serangan/tekanan itu melebihi dari batas-batas kesabarannya maka reaksi yang timbul adalah amarah.

Kita kerapkali dipaksa oleh situasi untuk menghadapi situasi tegang, perselisihan, perdebatan, pertengkaran.Tapi, alangkah baiknya jika semua itu ditempatkan pada porsinya.Jika situasi sudah berubah, tak perlulah rasa tidak enak itu dibawa kemana-mana sepanjang masa.

Selamat berpesta “bola”.<y2n>

Kategori:Renungan Harian
  1. 7 Oktober 2014 pukul 4:06 pm

    Hello mates, its enormous article concerning cultureand entirely explained, keep it up
    all the time.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: