Beranda > Renungan Harian > BABAK HIDUP MATI

BABAK HIDUP MATI

MASIH TENTANG PIALA DUNIA (3):

Cukup menegangkan… begitulah kiranya yang dirasakan oleh setiap orang yang melihat Babak perdelapan final Piala Dunia 2010. Diawali ketika Belanda bertemu Brasil, Uruguay bertemu Ghana, Argentina berhadapan dengan Jerman, Spanyol melawan Paraguay. Suasana menegangkan terlebih pasti juga dialami oleh mereka yang ikut terlibat dalam pertandingan. Mengapa begitu menegangkan? Karena dalam babak ini semua team memasuki masa hidup mati. Menang lanjut ke final dan kalah artinya mati karena harus pulang lebih awal.

Dalam babak seperti ini jelas kata-kata yang paling ditakuti adalah KALAH. Padahal, hanya satu team saja yang menjadi pemenang dalam setiap pertandingan. Ketakutan kepada kekalahan ini mungkin juga karena memang team yang bertanding di Piala Dunia ini berangkat dengan tekad untuk menang. Dan bahkan tidak satupun dari mereka yang siap untuk kalah. Karena tidak siap kalah maka para pemain dalam setiap pertandingan akan NGOTOT dalam bermain. Bahkan nilai-nilai sportifitas mungkin sedikit dikesampingkan. Lihat saja ketika Melo (pemain Brasil) diganjar kartu merah dan Suarez (pemain Urugay) juga diusir wasit karena menahan bola dengan tangan. Belum lagi permainan kasar yang terjadi sepanjang pertandingan.  TAKUT KALAH dan NGOTOT MENANG, sungguh mengabaikan tatanan dan bahkan nilai-nilai luhur sebuah sikap sportifitas dan kecenderungannya adalah anarkisme (kekerasan)… Sungguh semua terjangkiti virus TAKUT KALAH.

Dalam hidup iman kita pun sering sebuah tatanan atau kehendak Allah diabaikan karena kita ingin MENANG dan kita TAKUT KALAH. Menang dari apa? Jelas menang disini adalah terpenuhinya keinginan diri. Tuhan yang adalah “wasit” kehidupan kita juga sering tidak kita hiraukan supaya keinginan diri terpenuhi. Dalam hidup keluargapun betapa sering kita mengorbankan segala sesuatu untuk menang. Malu kalau anak-anak kita kalah dari yang lain maka kita sering “bermain kasar” kepada mereka dengan memaksakan kehendak kita dan menutup telinga terhadap keinginan mereka. Demikian juga dalam hubungan suami-istri. Jikalau masing-masing TAKUT KALAH maka permainan kasar adalah sebuah kebiasaan. TAKUT KALAH menjadikan kita NGOTOT dan ke-ngotot-an merusak tatanan bahkan kehendak ALLAH.  Demikian juga dalam hidup berpelayanan di gereja ini, jikalau semua tidak ada yang mengalah maka gereja yang seharusnya menjadi rekan sekerja Allah akan diisi oleh “permainan kasar.” Dan mari kita bertanya, mengapa kita NGOTOT?  Apa yang paling sering mengalahkan kita? Bukankah KEKUATIRAN kita? Karena itulah dalam babak hidup- mati bola kehidupan kita, mari kita merenungkan kembali Matius 6: 25-34. Selamat menonton Piala Dunia, semoga dari tontonan ini kita mendapatkan tuntunan dari Tuhan Yesus Kristus.(to2k)

Kategori:Renungan Harian
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: