Beranda > Renungan Harian > Kasih Melampaui Hukum

Kasih Melampaui Hukum

Memiliki pengalaman buruk karena ditipu atau disakiti oleh seseorang adakalanya amat membekas dihati kita. Sekalipun peristiwa itu telah lama terjadi, mungkin sulit bagi kita untuk melupakannya. Apalagi jika dilain kesempatan kita tiba-tiba bertemu kembali dengan orang tersebut. Bisa jadi bukan sekedar membangkitkan luka lama, tetapi bahkan membangkitkan rasa benci dan amarah yang begitu kuat. Kenyataan seperti ini bisa saja terjadi dalam kehidupan kita. Kalau kita mengalami hal yang demikian nampaknya akan membuat kita sulit untuk menilai seseorang secara objektif, tetapi kita akan menilai secara subyektif.

Dalam bacaan ini kita amelihat Filemon menghadapi masalah semacam itu. Filemon kecewa dengan Onesimus. Dia kecewa karena Onesimus telah menipunya. Dia membawa sebagian harta milik Filemon. Ini merupakan suatu pergumulan yang tidak mudah bagi Filemon untuk menerima atau menolak permintaan Paulus. Di satu sisi Filemon marah  karena dirugikan oleh Onesimus, namun disisi lain ia amat menghormati Paulus. Sebagai manusia, siapa sih yang tidak marah, siapa yang tidak kecewa jika dirugikan oleh orang lain, apalagi jika ditipu oleh orang yang telah iya percayai?? kalau kita marah ya manusiawi lah, tapi apakah marah dan membenci itu menyelesaikan masalah???? Saya kira tidak demikian. Justru membenci itu menimbulkan suatu penyakit dalam diri kita, karena  saya juga pernah mengalami hal yang serupa, saya pernah ditipu dengan sahabat saya sendiri, akhirnya setiap tindakannya, saya nilai dengan kaca mata negatif. Hingga akhirnya saya merasakan sakit hati karena memendam kekecewaan itu. Yah… namun tidak usah lah saya ceritakan didalam renungan ini, karena nanti dikira saya menjelek-jelekkan sahabat saya atau mungkin saya dikatakan menyerang rekan pelayanan saya, toh saya juga sudah menerima dia sebagai sahabat saya, walaupun dia tidak meminta maaf.

Masalah seperti ini memang menyakitkan namun justru dengan masalah yang seperti ini dibutuhkan suatu kematangan dan kedewasaan untuk menghadapi masalah itu. Kalu kita berusaha melihat konteks Alkitab itu yaitu didaerah Romawi. Maka menurut hukum bangsa Romawi, budak yang melarikan diri dapat dihukum mati. Artinya kalau Filemon menjatuhi hukuman mati kepada Onesimus, itu merupakan hal yang wajar dan syah-syah saja. Namun apakah Filemon menjatuhkan hukuman mati? Tidak. Justru dia (Filemon) lebih mengasihi kepada Onesimus. Filemon mengasihi bukan karena berdasarkan otoritas Paulus, tetapi karena kasih yang ia lihat dari Paulus. Karena diayat 8 menunjukkan bahwa Paulus sebenarnya memiliki kekuasaan untuk menyuruh Filemon agar bias menerima Onesimus. Tetapi apa yang dilakukan Paulus di ayat ke 9. Dia meminta dengan suatu pujian kepada Filemon, dengan mengatakan karena kasihmu lebih baik aku meminta dari padamu. Paulus tidak menggunakan kekuasaannya atau dengan kata lain Paulus menerangkan kepada kita bahwa kasih itu melampaui Hukum, sehingga ia meminta agar Filemon menerima Onesimus sebagai rekan, bukan sebagai hamba. Seandainya paulus menggunakan kekuasaannya “ayo terima kembali Onesimus sebagai saudaramu”. Maka Filemon tidak akan bisa mengasihi tetapi kerena hanya ada perintah. Dia tidak akan dapat memberikan kasih tetapi dia melakukan karena perintah saja, dan bukan kasih dari dalam hati. Mari kita terapkan bahwa kasih itu melampaui hukum. Selamat mempraktekkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati. Amin.<iron saputro>

Kategori:Renungan Harian
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: