Beranda > Berita > Perayaan Natal Umat Kristiani se Kabupaten Pacitan

Perayaan Natal Umat Kristiani se Kabupaten Pacitan

Dalam perayaan Natal Bersama se Kabupaten Pacitan 4 Januari yang lalu ditampilkan pagelaran Wayang Ringkes Padet bersama dalang Ki Sumasto Heri dari Magetan.

Selain dihadiri Jemaat Gereja-gereja di Pacitan juga hadir beberapa tamu undangan, tampak hadir diantaranya Bapak Bupati Pacitan HG Soedibjo dan pejabat Muspida setempat.

Bersamaan dengan itu juga disampaikan secara simbolis bantuan kepada korban bencana alam dari warga Kristiani di Pacitan yang disalurkan melali PMI Cabang Pacitan.

Berikut Sinopsis dari Cerita Wayang “Mrojol Selaning Garu” :

MROJOL SELANING GARU:
Sebuah Pelajaran dari Ceritera Pewayangan dalam Menjalani Kehidupan

PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan warisan budaya yang luhur dan mulia. Bukan hanya bersifat atraksi budaya tetapi juga nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang kaya dengan wejangan yang memberikan tuntunan bagi masyarakat. Salah satunya yang sampai hari ini terjaga dengan baik adalah warisan wayang kulit. Bagi masyarakat Indonesia – secara khusus suku Jawa- wayang dijadikan bukan hanya tontonan tetapi juga tuntunan hidup dimana melalui wayang masyarakat mendapatkan ajaran kebijaksanaan hidup yaitu hakekat hidup dan cara bersikap dalam hidup. Dalam ranah inilah wayang telah menukik jauh ke dalam batin masyarakat dan di sinilah wayang menjadi wejangan spiritual masyarakat.

Dalam sejarah pekabaran Injil (Kabar Seukacita) selalu ada pandangan berbeda antara Injil dan budaya terutama pekabaran Injil di Indonesia. Pertama, sejarah awal kekristenan di Indonesia menunjukkan sikap yang memandang buruk budaya lokal sehingga segala kearifan lokalnyapun dibuang. Memang patut disadari bahwa tidak semua budaya lokal itu berpadanan dengan Injil tetapi banyak dari nilai-nilai lokal tersebut yang juga berpadanan dengan berita Injil. Ke dua, sikap permisif terhadap budaya sehingga nilai Injil menjadi tidak jelas. Inilah yang disebut sinkritisme dimana Injil dicampur-adukkan dengan budaya yang akan menjadikan berita Injil justru hilang maknanya. Berjubah Kristen dengan memakai mantra Jawa atau berbeskap Jawa dengan Doa Bapa Kami. Keduanya menurut saya tidak meletakkan Injil dan budaya secara obyektif dan seimbang tetapi cenderung memandang berat sebelah. Ke tiga, sikap yang saya usulkan adalah mari meletakkan budaya secara obyektif dengan mengkaji secara mendalam untuk diambil inti pesannya demikian juga dalam iman Kristen kita kaji secara obyektif untuk kita ambil intinya sehingga terjalin dialog dua arah antara Injil dan budaya. Dengan sikap yang demikian maka budaya tidak dipandang sebagai ornamen pengabaran Injil tetapi justru Injil dimaknai secara mendalam berakarkan budaya.

Adapun budaya adalah bukanlah sesuatu yang statis (mandeg)pada kerangka kebudayaan tradisioal yang berkutat hanya kepada tradisi lampau karena budaya selalu bersinggungan dengan sekularisasi, teknologi, perjuangan demi keadilan, martabat dan harga diri kemanusiaan . Dilihat dari kerangka budaya yang selalu mengalami perubahan inilah maka supaya Injil dapat selalu relevans dan menyapa manusia (membumi) maka Injil harus senantiasa berkontekstualisasi. Dalam kontekstualisasi itu selalu ada unsur kritis dan dinamis. Upaya kontekstualisasi inilah yang disajikan dalam Perayaan Natal Umat Kristiani Kabupaten Pacitan 2010, dengan pagelaran “Wayang Kulit.” Dalam Perayaan Natal 2011 ini kita diajak untuk beriman sembari melestarikan warisan budaya leluhur. Adapun ceritera (lampahan) yang hendak diangkat adalah “MROJO SELANING GARU”

SINOPSIS CERITERA “MROJOL SELANING GARU”
Dikisahkan ketika Begawan Gunawan Wibisana akan mencapai kesempurnaan hidup menuju ke surga dengan mencapai kamukswan (mati dengan hilang raga). Dihadang oleh 4 raksasa sebagai perwujudan sifat, yang merupakan personifikasi sifat marah, sifat suci, sifat keinginan, dan kekuatan/kasantosan, yang tidak mau ditinggal oleh Sang Raga Luwih (Begawan Gunawan Wibisana). Setelah begawan Wibisana menjelaskan kepada keempat sifat ini bahwa mereka akan tetap menyatu dengan Sang Raga Luwih (Begawan Wibisana) dengan syarat mereka berempat harus menemui seorang Satria di hutan Duryopuro. Satria itu adalah Raden Harjuna atau Raden Janaka.

Begawan Wibisana adalah adik kandung Rahwana dan Kumbakarna. Pernah suatu ketika mereka bertiga melakukan semedi dan semedi itu berkenan kepada para Dewa. Mereka diberikan kesempatan mengajukan permintaan yang akan dikabulkan oleh Dewa. Rahmana meminta kesaktian sementara Kumbakarna meminta tidur dalam keabadian tetapi Wibisana meminta supaya hidup DIJALAN KEBENARAN (dharma). Karena itulah, walau berbentuk raksasa, Wibisana dikenal sebagai raksasa yang baik hati dan bijaksana. Ketika Rahwana menculik dewi Sita dia menolak dengan keras dan karena berbeda pandangan dengan kakaknya itu maka Wibisana menyeberang ke pihak Rama.

Setelah keempat raksasa yang adalah personifikasi sifat manusia tersebut rela melepas Begawan Wibisana maka kini Begawan Wibisana meneruskan perjalanan ke surga. Tetapi ketika sampai di alam antara (alam penantian) Begawan Wibisana dihadang oleh arwah Kumbakarna kakaknya. Kumbakarna menggugat Wibisana karena dianggap telah membohongi Kumbakarna. Arwah kumbakarna terkatung-katung nasibnya dialam antara karena hendak naik ke sorga tidak bisa dan pergi ke neraka ditolak. Kumbakarna mempertanyakan nasibnya kepada Wibisana karena selama hidup Kumbakarna tidak pernah berbuat jahat. Berpikir jahat saja dia tidak pernah lakukan. Apalagi selama hidupnya dia telah memenuhi tugas satrianya dengan rela mati membela negaranya. Tetapi mengapa Kumbakarna masih belum bisa naik ke sorga?

Mendengar gugatan kakaknya ini maka Wibisana menerangkan bahwa untuk mencapai keabadian yaitu mencapai sorga tidak cukup hanya dengan menjalankan dharma dan sikap satria. Karena lebih dari itu Kumbakarna membutuhkan ruwatan dan ruwatan itu hanya bisa dilakukan oleh salah seorang Pandawa yang sudah mencapai pencerahan. Pandawa yang dimaksud adalah Warkudara. Atas petunjuk adiknya inilah Kumbakarna pergi mencari Warkudara untuk meminta ruwatan.

Sementara dibagian wilayah lain, Kurawa sedang mendapatkan tugas untuk mencarikan obat bagi Prabu Duryudana yang hatinya gelisah dan tidak memiliki ketentraman. Obat tersebut hanya bisa didapat dari seorang Guru yaitu Begawan Kesawasidhi. Pasukan Kurawa ini dipinpin oleh panglimanya yang bernama Prabu Karna. Dalam perjalanannya, pasukan Kurawa bertemu dengan murid-murid Begawan Kesawasidhi yaitu Hanoman dan teman-temannya. Maka terjadilah perang hebat antara pasukan Kurawa dengan murid-murid begawan Kesawasidhi. Hingga akhirnya Prabu Karna menghunuskan senjata pamungkasnya yaitu panah Kiai Kuntadruwasa. Sebelum panah itu dipanahkan, Anoman berhasil merebutnya dan dibawa lari menuju gurunya. Namun sesampainya dihadapan gurunya, Hanoman justru dimarahi oleh Sang Guru karena membalas kejahatan Kurawa dengan kejahatan karena hal itu manimbulkan kekacauan (chaos).

Disinilah akhirnya Harjuna mendapatkan tugas dari Begawan Kesawasidhi untuk mengembalikan panah Kiai Kuntadruwasa kepada Prabu Karna. Harjuna merasa berat menerima tugas tersebut karena Karna adalah musuh Pandawa dan kalau senjata pamungkasnya telah ditangan mereka pastilah kekuatan lawan akan berkurang. Dari pertanyaan Harjuna ini kemudian Sang Begawan menasehati Harjuna dan Warkudara tentang jalan kesempurnaan hidup. Mengembalikan pusaka Prabu Karna adalah tanda dari membalas kejahatan dengan kebaikan. Setelah mendengarkan dan mengerti semua ajaran Sang Begawan maka Warkudara dan Harjuna mendapatkan pencerahan dari ajaran tersebut. Maka Warkudara menyempurnakan Kumbakarna dengan cara membanting Kumbakarna ke paha sebelah kirinya sehingga menyatu dengan Warkudara dan menambah kekuatannya. Nanti masuknya Kumbakarna ke sorga adalah bersama-sama dengan muksa-nya Warkudara. Demikian juga Harjuna pada akhirnya menyempurnakan empat raksasa yang adalah personifikasi dari sifat manusia dengan jalan empat raksasa ini dikembalikan ke alam asalnya yaitu dikendalikan oleh manusia dan bukan manusia yang dikendalikan sifat-sifatnya. Jikalau manusia mampu mengendalikan sifat-sifatnya maka disanalah menemukan jatidiri manusia yang sebenarnya sehingga damai sejahtera dan kebahagiaan senantiasa ada dalam kehidupannya. Itu semua terjadi ketika mengalami pencerahan seperti Harjuna.

REFLEKSI TEOLOGIS ATAS KISAH “MROJOL SELANING GARU”
Pepatah Mrojol Selaning Garu memiliki arti dua makna yaitu: pertama, orang yang terlepas dari bahaya.  Ke dua, orang yang memiliki kemampuan lebih dalam pengetahuan dan sulit menandinginya.  Adapun  garu adalah bajak yang dipergunakan petani untuk meratakan tanah. Bentuk garu seperti sisir besar yang memiliki jari-jari dengan sela yang kecil sehingga ketika ditarik oleh sapi atau kerbau maka sangat sedikit sekali tanah yang dapat lolos dari jari-jarinya. Melihat arti dari Mrojol Selaning Garu seperti di atas dan dikaitkan dengan cerita pewayangan ini maka kita dapat berefleksi dan belajar beberapa hal antara lain:

Pertama, belajar dari Wibisana sebagai orang yang mrojol selaning garu menjadikan kita tahu bahwa untuk dapat terlepas dari bahaya dan memiliki pengetahuan lebih tidak memandang golongan atau ras tertentu sebab raksasapun dapat menerima itu. Yang menjadikan manusia bisa terlepas dari bahaya dan memiliki pengetahuan lebih adalah keputusan hidup yang diambilnya. Wibisana mengambil keputusan untuk memiliki hikmat dan pengetahuan tentang JALAN KEBENARAN saat ditawari permintaan oleh para dewa. Wibisana yang walaupun raksasa namun karena keagungan budi dan kebijaksanaannya, dia disebut sebagai yang benar.

Bahkan atas anugerah kebijaksanaan itu pula Wibisana berani menentang ketidakbenaran walaupun itu adalah kakak kandungnya sendiri yaitu Rahwana. Di sini nampak bahwa kebenaran harus ditegakkan walaupun harus bermusuhan dengan saudara sendiri. Tentu yang dimusuhi bukanlah ikatan saudaranya tetapi ketidakbenaran yang dianut oleh saudara. Senada dengan hal ini dalam Injil Matius 10:34-36 Tuhan Yesus juga memberikan seruan keras bagi setiap orang yang ingin mengikutNya. Sebab setiap orang harus berani mewartakan Kebenaran walaupun harus dimusuhi oleh banyak orang termasuk keluarganya sendiri. Dan kebenaran itu adalah Tuhan Yesus sendiri sebab dalam Yohanes 14:6 Tuhan Yesus mendeklarasikan dirinya sebagai JALAN KEBANARAN dan HIDUP. Jadi, bagi setiap orang yang telah mengikut Tuhan Yesus maka jalan yang ditempuhnya adalah KEBENARAN dan HIDUP. Untuk itulah diperlukan tekad dan semangat yang tidak ada putusnya untuk siap menanggung segala konsekwensi dari mengikut Tuhan Yesus. Keberanian membayar harga dalam mengikut Tuhan Yesus inilah yang patut kita belajar dari keteguhan hati Wibisana.
Pelajaran ke dua, untuk mencapai kesempurnaan hidup manusia tidak cukup dengan usaha sendiri. Melakukan bhakti dan dharma dalam sepanjang hidup tidak menjamin manusia mencapai kesempurnaan hidup (surga). Inilah yang dialami oleh Kumbakarna seorang satria sejati yang menunaikan bhakti menjalankan kewajibannya membela negerinya sampai mati melawan pasukan Rama. Karena itulah Kumbakarna berperang dengan sepenuh hati karena yang dia lakukan bukan membela kesalahan Rahwana kakaknya tetapi demi kewajiban anak negeri yang membela tanah airnya. Nampak di dalam kesetiaan Kumbakarna adalah sikap nasionalisme. Namun semua tidak cukup menjadikan Kumbakarna mencapai surga karena itu dia memerlukan ruwatan yaitu penyucian dari pihak lain yaitu Warkudara.

Dalam konsep iman Kristen, manusia memang tidak pernah berdaya menentukan nasib kehidupannya sendiri termasuk dalam hal keselamatan. Hal ini disebabkan oleh adanya kuasa dosa yang selalu menguasai manusia. Untuk itulah manusia memerlukan ruwatan supaya lepas dari kuasa dosa. Ruwatan itulah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan mati di kayu salib sebab ketika Ia disalibkan dia disebut sebagai domba paskah.  Dalam kehidupan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, segala laku baik dan bhaktinya adalah buah dari ruwatan. Artinya, laku baik dalam kehidupan ini semata-mata bukan untuk mendapatkan keselamatan tetapi karena telah diselamatkan oleh penebusan Tuhan Yesus Kristus. Sehingga laku baik adalah sebuah keharusan sebagai cerminan keselamatan yang diterimanya dari Tuhan Yesus Kristus. Demikian juga semangat nasionalisme haruslah juga menjadi buah atas ruwatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.
Pelajaran ke tiga, kejahatan yang disebarkan oleh musuh tidak boleh dibalas dengan permusuhan jikalau merindukan kedamaian dan ketentraman sejati dalam hidup ini. Demikianlah yang didapatkan Hanoman, Harjuna dan Warkudara saat mendengar wejangan  begawan Kesawasidhi. Tatanan dunia yang penuh dengan damai sejahtera hanya akan terwujud jika masing-masing orang melandaskan sikapnya kepada kasih sayang termasuk kepada orang yang memusuhinya. Untuk dapat melakukan bahasa kasih sayang inilah diperlukan sebuah pencerahan (lahir baru) yaitu dilahirkan dalam darah dan kuasa Kristus.

Ajaran kasih sayang itu memiliki dua dimensi yaitu dimensi kasih kepada Tuhan Allah dan dimensi kasih sayang kepada sesama. Itulah pencerahan yang dibawa Tuhan Yesus untuk kita perbuat yang terangkum dalam Dua Hukum Utama. (Matius 22: 34-40). Bahkan dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus mengajarkan kasih lebih luas yaitu bukan hanya kepada orang yang mengasihi kita tetapi juga kepada orang yang memusuhi kita (Mat 5:44). Tuhan Yesus juga memberikan petunjuk sikap ketika ada pihak atau orang yang memusuhi kita maka yang harus kita lakukan adalah dengan mengasihi dan bukan membalasnya (Mat 5:38-42). Ajaran Tuhan Yesus Kristus ini harusnya memberikan pencerahan dalam kehidupan dunia ini.
PENUTUP
Banyak orang menyebut jaman ini sebagai jaman edan. Ke-edanan itu merasuki semua segi kehidupan dan semua lapisan masyarakat. Ke-edanan itu pula yang sering menjadikan manusia hilang rasa percaya diri, rasa nasionalisme dan bahkan sikap bela rasa dengan sesama. Lebih banyak orang yang senang melihat sesamanya menderita daripada melihat sesamanya berbahagia. Kondisi yang demikian ini menjadikan semakin berat manusia menjalani kehidupan sehingga banyak orang yang berputus asa dan hilang harapan. Di sanalah kita diingatkan kembali tentang kesejatian kehidupan kita orang-orang yang telah diruwat, dan sedang mengikuti JALAN KEBENARAN dan HIDUP yaitu Tuhan Yesus Kristus. Jikalau kita menyadari keberadaan hidupnya bersama Tuhan Yesus maka harusnya kita merasa bahagia. Kebahagiaan itu karena kita terlepas dari bahaya dan kita memiliki pengetahuan yang lebih tentang kehidupan ini. Kelebihan pengetahuan itu adalah karena kita selalu melihat kehidupan bukan dari sudut pandang manusia tetapi dari sudut pandang Tuhan. Di sinilah kita akan disebut sebagai orang yang mrojol selaning garu. Selamat menjadikan wayang sebagai tontonan  yang memberikan kita semua tuntunan.(t02k)

Pdt. EKO ADI KUSTANTO
Minggu Ephifania@dalemkapandhitan
GKJW Jemaat Pacitan
Jl. Kol.Sugiono 2

Kategori:Berita
  1. 29 Juli 2014 pukul 9:45 pm

    For people with the LG Refrigerator using a computer controlled Adaptive defrost board.

    In addition to the flowers and plants already in your garden, potted plants can be a great addition.
    Fully covered flooring would not be so easily cleaned.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: