Sembahlah Dia!

10 Februari 2013 1 komentar

Bacaan: Mazmur 95

Charles Spurgeon menyebut Mazmur 95 sebagai “lonceng gereja” yang memanggil jemaat beribadah (1-2). Ibadah dimulai dengan ucapan syukur karena kedahsyatan Allah dan karya penciptaan-Nya (3-5). Dialah Allah yang mengatasi segala allah. Hanya Dia Allah! Dia pencipta semuanya. Dia pemilik dan penguasa tunggal atas alam semesta dan atas segala makhluk ciptaan, juga manusia!

Inti mazmur ini ada pada ayat 6-7. Allah bukan hanya Pencipta dan Pemilik hidup. Dia memelihara hidup kita seperti Gembala terhadap domba-domba-Nya. Alasan beribadah menjadi sangat personal, yaitu karena Dia baik buat saya! Dia Pencipta, yang jauh di sana, tetapi Dia juga dekat di hati saya, di sekeliling saya.

Kapan umat Israel mengalami kedekatan dengan Allah yang begitu nyata? Pada saat perjalanan mereka di padang gurun menuju tanah perjanjian. Tuhan memimpin mereka melalui kehadiran tiang awan dan tiang api, serta Kemah Suci di tengah-tengah perkemahan umat. Ironisnya, justru di situ mereka berulang kali mencobai Allah dengan bersungut-sungut tidak puas, dan memberontak kepada-Nya. Akibatnya dahsyat. Satu generasi dihukum tidak dapat masuk ke tanah perjanjian. Namun, di padang gurun itu pula mereka terus mengalami pengampunan dan pemulihan-Nya! Ini adalah pelajaran dan tanda awas bagi umat Tuhan!

Mazmur 95 mengajak kita menyembah Allah, sekaligus mengingatkan kita agar jangan melalaikan penyembahan sejati kepada-Nya. Apakah Tuhan harus mendatangkan hukuman lebih dahulu agar kita bertobat? Kita adalah umat yang sudah mengalami kebaikan Allah di dalam Tuhan Yesus. Kita adalah umat yang sudah dijanjikan surga mulia. Kita sedang menuju ke sana! Apakah kita akan mengulang kesalahan nenek moyang Israel generasi pertama, atau kita mau komitmen untuk tetap setia sampai tiba di negeri perjanjian Allah!

Perintah Allah vs tradisi manusia

Bacaan: Matius 15:1-20

Setiap bangsa atau budaya di dunia pasti mempunyai adat dan tradisi masing-masing. Banyak tradisi yang baik, patut dilestarikan. Ada juga tradisi yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Orang Kristen yang hidup dalam tradisi budaya tertentu harus peka terhadapnya.

Dalam memelihara hukum Taurat, para pemimpin agama Yahudi menambahkan berbagai tradisi buatan nenek moyang mereka sampai kepada detailnya seperti soal membasuh tangan sebelum makan (2). Siapa yang melanggarnya akan mendapat sanksi. Maka, mereka mempertanyakan dan mempersalahkan Yesus karena mengizinkan murid-murid-Nya makan tanpa mencuci tangan.

Yesus menegur kemunafikan mereka karena mengutamakan tradisi daripada perintah Allah. Contohnya, tradisi memberikan persembahan. Tradisi ini sebenarnya baik dan mulia. Namun yang salah ialah demi melakukan tradisi tersebut, mereka mengizinkan seseorang boleh mengabaikan perintah Tuhan untuk menghormati dan memelihara orang tuanya (4-6). Jadi, yang lebih utama ialah tradisi manusia daripada perintah Tuhan. Mereka hanya memuliakan Allah dengan mulut, tetapi hatinya jauh dari-Nya. Mereka juga lebih mementingkan hal-hal lahiriah daripada hal-hal batiniah seperti tradisi mencuci tangan sebelum makan. Bagi Yesus tidak cuci tangan tidak melanggar Taurat karena yang terpenting ialah hati kudus karena semua hal berasal dari hati. Bila hati kudus, maka pikiran, perkataan dan perbuatan yang dinyatakan juga akan kudus. Namun, bila hati jahat, semua yang dihasilkan juga jahat.
Baca selengkapnya…

Kategori:Renungan Harian

Aja Pada Mangkotake Atimu

Waosan : Markus 6: 14-29
Pamuji : KPK 127
Nats : “Ing dina iki, manawa sira padha krungu swarane, aja padha mangkotake atinira!” [Ibrani 4:7]

Boten gampil kangge saben tiyang nampi ‘kritik’ ingkang katujokaken dhateng piyambakipun. Punapa malih yen piyambakipun punika dados salah satunggaling pejabat publik (masyarakat) ing babagan punapa kemawon. Awit piyambakipun tamtu badhe tansah ‘jaga gengsi’ minangka pejabat ingkang kedah dipun urmati dening saben tiyang. Satemah sadaya kritik [sanadyan estunipun sae pikajengipun] tansah kaanggep satunggaling prakawis ingkang badhe ngrisak lan mbebayani tumrap ing kawibawan lan panguwasanipun. Pramila kita gampil sanget mirsani tiyang kathah ingkang ketingal ngotot lan pinter ‘bersilat lidah’ kangge membela diri, sanadyan asring boten tinemu ing nalar.
Baca selengkapnya…

Hati yang peduli

8 Februari 2013 1 komentar

Bacaan: Matius 14:13-36

Di tengah-tengah dunia yang individualistik, orang Kristen dipanggil untuk menyatakan kepedulian, meneladani Yesus. Sebenarnya Yesus dan murid-murid ingin menenangkan diri di tempat yang sunyi. Namun, melihat antusias orang banyak, Yesus menunjukkan belas kasihan-Nya dan menyembuhkan mereka yang sakit (5, 34-36).

Yesus juga peduli terhadap kebutuhan jasmani orang banyak. Ia mendorong para murid untuk peduli dan bertindak. Saat para murid menganggap diri tidak mungkin melakukan sesuatu yang signifikan dengan sumber daya yang sangat sedikit (17), Yesus membuatnya menjadi mungkin. Mereka belajar menyerahkan yang sedikit itu ke dalam tangan Yesus yang berkuasa. Dia akan memberkati yang sedikit untuk kelimpahan bagi orang banyak. Para murid yang melayani pun mendapat bagian (20).
Baca selengkapnya…

MEMULIAKAN ALLAH

2 Februari 2013 1 komentar

Bacaan: Matius 21:1-11

Dalam pelayanan, saya sering mengajukan pertanyaan kepada para mahasiswa tentang tujuan hidup mereka. Sebagian besar merasa bingung dan tidak bisa menjawab. Namun, ada juga yang dengan yakin berkata, “Saya mau hidup untuk memuliakan Allah.” Pernyataan ini selaras dengan paparan Rick Warren dalam buku The Purpose-Driven Life. Pertanyaan yang masih tersisa adalah: Bagaimana sebenarnya cara memuliakan Allah itu?

Kisah dua orang murid dalam perikop hari ini barangkali dapat memberikan gambaran sekilas. Pada saat Yesus menyuruh mereka mengambil seekor keledai, mereka melakukannya dengan taat. Mereka juga mengerjakan perintah itu sesuai dengan instruksi dan tetap rendah hati. Pekerjaan itu sendiri tampak sepele dan tidak populer serta biasanya hanya dikerjakan oleh seorang budak. Toh mereka tidak protes. Siapa yang menduga bahwa ketaatan itu kemudian berujung pada perarakan Yesus di mana Dia dieluk-elukan dan dimuliakan oleh orang banyak? Terlebih lagi, mereka diberi kehormatan dan dipakai Allah untuk menggenapi nubuatan tentang Yesus dalam Zakharia 9:9 dan Mazmur 118:26. Baca selengkapnya…

DI BALIK KETAATAN

Bacaan: Ibrani 11:8-19

Beberapa tahun lalu, seorang pendeta senior di gereja kami dipindahkan dari Medan ke Lampung. Mutasi ini terjadi secara mendadak. Ia bergumul karena, dari segi materi, jemaat yang dilayaninya di Medan lebih kaya daripada jemaat di Lampung. Apalagi, saat itu salah seorang anaknya sedang kuliah di jurusan kedokteran di Medan, yang tentu saja membutuhkan banyak biaya. Setelah berserah dalam doa, Pak Pendeta taat pada penunjukan pemimpin gereja. Rupanya, hanya dalam beberapa bulan kemudian, seorang jemaatnya di Lampung bersedia menanggung seluruh biaya kuliah anak pendeta tersebut sampai tamat.
Baca selengkapnya…

Kategori:Renungan Harian

BAI FANG LI

Bacaan: Yakobus 3:16-18

Bai Fang Li, pengayuh becak dari Tianjin, China, tinggal di gubuk tua, di lingkungan kumuh tempat tinggal para pengayuh becak dan pemulung. Tak ada perabotan berharga di rumahnya. Ia hanya punya satu piring dan satu gelas kaleng sebagai alat makan. Ia tidur beralas karpet lama dengan selembar selimut tua sebagai penghangat, dan hanya diterangi lampu minyak.

Penghasilan Bai sebenarnya dapat membuatnya hidup lebih layak. Namun, sejak usia 74, ia menyumbangkan sebagian besar penghasilannya ke panti asuhan di Tianjin, yang menampung 300 anak dan mengelola sekolah untuk anak dari keluarga kurang mampu. Ketika pada umur 91 tahun ia tak sanggup lagi mengayuh becak, Bai telah menyumbangkan uang sebesar 350.000 yuan (Rp472.500.000, 00)! Meski tak berlimpah harta, ia memutuskan untuk tidak memikirkan diri sendiri dan berani memberi. Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.